...lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (perbuatanku) yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam. (HR Muslim)
Bukan hanya sahabat Nabi, tapi Nabi sendiri pun tidak luput dari cobaan Allah Swt. Dalam sejarah, saat Nabi Saw. berdakwah, segala macam cacian, hinaan, dilempar kotoran, bahkan diburu untuk dibunuh telah dialami oleh Nabi Saw. Lalu, apa yang menjadi alasan Nabi Saw. dan para sahabatnya tetap teguh dalam Islam? Tentu keyakinan mereka, bahwa Allah Swt. memberikan cobaan dan ujian hanyalah karena kecintaan-Nya. Kecintaan seperti apa? Dalam setiap ujian, tersimpan manisnya rahmat Allah dan janji kemenangan yang kita munajatkan ketika berdoa.
Menghindari pembatal-pembatal keislaman
Alasan lain kenapa kita mesti memperkuat keimanan dengan terus mempelajari berbagai pengetahuan tentang Islam, adalah agar kita terhindar dari segala macam pembatal keislaman. Karena betapapun seorang mualaf dimuliakan karena memilih beriman pada yang benar, namun bukan berarti terbebas dari ancaman kehinaan. Apakah kemuliaan itu bisa berganti menjadi kehinaan? Jawabannya, ya, ketika seseorang berpaling dari keimanan pada yang benar itu, dengan meyakini atau melakukan apa-apa yang menjadi penyebab batalnya keislaman seseorang.
Sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Nahl (16) ayat 106:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنَّ بِالْإِيْمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Terjemahnya: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.