memperdalam Islam lewat pernikahan, maka hal ini tentu baik. Tapi jangan jadikan pernikahan itu sebagai tujuan ketika memilih menjadi mualaf.
Mengenai ini, dapat dipahami dengan sederhana, jika keislaman seseorang bukan semata-mata karena Allah Swt., dengan kata lain masuk Islam karena pasangan yang ingin dinikahi, kemungkinan besar setelah menikah pasangan itu akan menyakiti atau membuat kecewa, maka kekecewaan itu tidak hanya pada pasangan, tapi juga dengan Islam itu sendiri.
Perlu diketahui, belum tentu orang yang sudah Islam dari lahir, sudah mengamalkan Islam dengan sebaik-baiknya. Hal ini pun berlaku dalam agama apapun. Oleh karena itu, bermualaflah karena Allah, dan pahamilah Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Jangan pula masuk Islam karena faktor kebutuhan ekonomi, seperti memanfaatkan status sebagai muallaf, demi mendapatkan bantuan. Dalam beberapa kasus ini banyak terjadi. Keliling ke setiap Masjid mengaku sebagai muallaf dengan menunjukkan surat masuk Islam. Membuat cerita-cerita dramatisir tentang masuk Islamnya, agar orang yang mendengarnya merasa iba dan prihatin, lalu setelah itu meminta bantuan. Berniatlah karena Allah Swt.
Yang perlu digarisbawahi adalah, sekalipun ada yang mengaku mualaf tapi tujuannya bukan ingin menjadi muslim, tapi memiliki alasan tertentu sebagaimana telah dijelaskan, sungguh tidak akan memberikan kerugian bagi kaum muslimin. Harta yang diberikan, dan santunan yang disalurkan, tetap dicatat sebagai kebaikan, sekalipun yang dibantu hanya berpura-pura sebagai mualaf. Sebagaimana telah dijelaskan, Allah memandang perbuatan seorang muslim seperti apa yang ia niatkan. Perbuatan baik dengan niat yang baik, akan selalu mendapatkan balasan kebaikan pula.
Sungguh beruntung mereka yang menjadi mualaf sebab rindu pada kebenaran lalu meyakini Islam. Sebab Allah akan memberikan berbagai keutamaan bagi diri mereka, dengan keampunan dan rahmat yang berlimpah serta kecukupan di dunia dan akhirat.
b. Sabar dan semangat dalam menuntut ilmu
Islam adalah agama iman, ilmu dan amal. Penghubung antara iman seseorang dengan amal perbuatan adalah ilmu yang dimilikinya. Sebab itu, dalam Islam menuntut ilmu adalah kewajiban. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.,