c. Iman Kepada Malaikat
Malaikat itu tidak sama dengan manusia di dalam sifat-sifat dan pekerjaannya: bukan laki-laki dan bukan perempuan; tidak makan dan tidak pula minum; dan dalam keadaan biasa tidak dapat dilihat dengan mata kepala, malaikat-malaikat itu sebangsa Ruh saja.
Kita tidak diwajibkan mengetahui hakekat dzat malaikat itu. Cukuplah kita mempercayai saja akan keberadaannya, dengan sifat-sifat yang tersebut dalam Al-Qur'an. Para Nabi dan Rasul, dapat mencapai malaikat pembawa wahyu yang terkadang menjelma sebagai manusia dengan kehendak Allah, dan terkadang pun tidak bertubuh seperti manusia.
Bilangan Malaikat itu banyak sekali, dan hanya diketahui oleh Allah sendiri. Masing-masing nama dan pekerjaan sendiri-sendiri. Dan nama-nama itulah yang dihubungkan dengan pekerjaannya. Pekerjaannya yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan dalam keterangan para Rasul ada banyak sekali di antaranya sebagai berikut:
1. Membawa wahyu dari hadirat Ilahi kepada para Nabi dan Rasul, dinamakan Ar-Ruhul-Amin atau Jibril atau Ar-Ruhul-Qudus;
2. Membawa rezeki kepada semua makhluq, dinamakan Mikail;
3. Meniup sangkakala (trompet) di hari kemudian, dinamakan Israfil;
4. Mencabut nyawa dari tubuh makhluq, dinamakan Izrail;
5. Mengawasi dan meneliti pekerjaan manusia, dinamakan Rakib dan Atid;
6. Menanyai tiap-tiap orang dalam kubur, dinamakan Mungkar dan Nakir;
7. Menjaga neraka, dinamakan Malik atau Zabaniyah;
8. Menjaga surga, dinamakan Ridwan.
d. Iman Kepada Kitab-Kitab
Dalam aspek akidah atau tauhid, mengimani dan mempercayai kitab-kitab suci yang pernah diturunkan Allah SWT kepada para nabi-Nya merupakan salah satu dari rukun iman, yaitu rukun iman ketiga. Pengejawantahan rukun iman ketiga ini pada dasarnya adalah meyakini bahwa Allah SWT memiliki kitab-kitab yang diturunkan sebagai wahyu
kepada nabi-nabi-Nya. Kitab-kitab tersebut menjelaskan perincian-perincian, larangan-larangan, janji-janji, dan ancaman-Nya.
Di antara kitab-kitab yang dimaksud adalah Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur'an. Seperti apa pemahaman meyakini keempat kitab ini dalam konteks akidah?
Pertama, mengimani kitab Taurat artinya membenarkan bahwa Taurat merupakan salah satu dari kitab-kitab Allah, diturunkan kepada Nabi Musa AS. Kitab ini diturunkan untuk menjelaskan hukum-hukum syariah, akidah shahih yang diridhai, dan memberi kabar gembira tentang akan datangnya seorang nabi dari keturunan Nabi Ismail AS.
Kedua, mengimani kitab Zabur artinya meyakini bahwa Zabur merupakan salah satu di antara kitab-kitab-Nya, diturunkan kepada Nabi Daud AS. Kitab ini memuat kalimat-kalimat doa, dzikir, nasihat, dan hikmah. Hanya saja isi kitab Zabur ini di dalamnya tidak terdapat hukum-hukum syariat karena Nabi Daud AS diperintahkan mengikuti syariat Nabi Musa AS.
Ketiga, mengimani kitab Injil artinya meyakini bahwa Injil juga merupakan salah satu dari kitab-kitab Allah SWT, diturunkan kepada Nabi Isa AS. Kitab ini untuk menjelaskan kenyataan-kenyataan (kebenaran), mengajak orang-orang mengesakan Sang Pencipta, mengganti sebagian hukum-hukum cabang dari Kitab Taurat untuk menyesuaikan tuntutan keadaan, dan memberi kabar gembira akan lahirnya Nabi Penutup.
Keempat, mengimani kitab Al-Qur'an, yaitu meyakini bahwa Al-Qur'an adalah kitab Allah yang paling mulia. Allah menurunkan Kitab Al-Qur'an ini kepada nabi termulia di antara nabi-nabi lainnya, Nabi Muhammad SAW. Inilah kitab ilahiyah yang terakhir diturunkan. Ia memansukh (menghapus) semua kitab-kitab sebelumnya. Hukum yang terkandung di dalamnya abadi sampai hari Kiamat serta tidak mungkin mengalami perubahan. Al-Qur'an ini menjadi tanda terbesar kenabian Muhammad SAW karena merupakan mukjizat yang paling agung.
Tentang keberadaan Kitab selain Al-Qur'an pada masa sekarang, sudah ditemukan perubahan (tidak orisinal sebagaimana yang dulu Allah turunkan). Di antara indikasi yang menunjukkan hal itu adalah di dalam Taurat sekarang tidak disebutkan lagi pembahasan tentang surga, neraka, hari kebangkitan, saat dikumpulkannya semua manusia, dan tentang pembalasan. Padahal soal-soal tersebut merupakan hal-hal terpenting yang termaktub dalam kitab-kitab ilahiah. Di sinilah salah satu alasan kenapa Al-Qur'an diturunkan, yakni menjelaskan kembali bagaimana sebenarnya hukum-hukum Allah, yang telah dirubah di dalam kitab-kitab sebelumnya.