Bina Mualaf Bumi Asri

e. Iman Kepada Rasul

Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun iman yang ke empat. Oleh karena itu sebagai orang muslim harus meyakini dengan sepenuh hati bahwasanya Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya kepada ummat manusia untuk mengarahkan manusia ke jalan yang benar.

Iman kepada rasul-rasul Allah, seperti halnya iman kepada kitab-kitab Allah, merupakan konsekuensi logis atau akibat langsung dari iman kepada Allah. Keberadaan Rasul-rasul Allah ini juga terkait dengan keberadaan kitab-kitab-Nya. Para rasul Allah inilah yang mendapatkan amanat menerima wahyu atau pesan-pesan Allah yang terkumpul ke dalam kitab, yang kemudian disampaikan kepada umat manusia umumnya. Rasul Allah adalah utusan Allah yang mengemban tugas sangat berat dari Allah untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada umat manusia.

Rasul Allah ini juga disebut nabi yang berarti pembawa berita dari Allah untuk manusia. Nabi dan rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah untuk tugas-tugas mulia yang tidak diberikan kepada sembarang manusia. Karena itulah Allah selalu membimbing nabi dan rasul-Nya ini agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Nabi dan rasul ini juga memiliki sifat-sifat yang istimewa yang mengiringi tugas mereka yang amat berat.

Para Rasul Allah merupakan teladan bagi sekalian umatnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang yang menjadi teladan memiliki sifat suci dari dosa, bahkan lebih dari itu, dia harus memiliki akhlak yang luhur. Untuk kepentingan tersebut, Allah akan menjaga dan memelihara para nabi dan rasul-Nya dari melakukan perbuatan-perbuatan salah dan dosa.

Sebagai manusia pilihan, para nabi dan rasul senantiasa terpelihara dari perbuatan maksiat. Mereka senantiasa memperlihatkan akhlak yang mulia dan mencerminkan kehidupan yang diliputi kesucian. Allah telah mengaruniakan kepada mereka pertolongan dan anugerah untuk dapat mencapai kesempurnaan kemanusiaannya. Dengan demikian sudah sepantasnya kalau perilaku mereka menjadi anutan dan teladan. Selain terpelihara dari melakukan maksiat, para rasul juga memiliki beberapa sifat utama, yaitu shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Pertama, shiddiq artinya jujur, seorang rasul tentu saja harus jujur. Bagaimana mungkin ia dapat diteladani kalau ia adalah seorang pembohong. Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 41:

e. Iman Kepada Rasul

Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun iman yang ke empat. Oleh karena itu sebagai orang muslim harus meyakini dengan sepenuh hati bahwasanya Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya kepada ummat manusia untuk mengarahkan manusia ke jalan yang benar.

Iman kepada rasul-rasul Allah, seperti halnya iman kepada kitab-kitab Allah, merupakan konsekuensi logis atau akibat langsung dari iman kepada Allah. Keberadaan Rasul-rasul Allah ini juga terkait dengan keberadaan kitab-kitab-Nya. Para rasul Allah inilah yang mendapatkan amanat menerima wahyu atau pesan-pesan Allah yang terkumpul ke dalam kitab, yang kemudian disampaikan kepada umat manusia umumnya. Rasul Allah adalah utusan Allah yang mengemban tugas sangat berat dari Allah untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada umat manusia.

Rasul Allah ini juga disebut nabi yang berarti pembawa berita dari Allah untuk manusia. Nabi dan rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah untuk tugas-tugas mulia yang tidak diberikan kepada sembarang manusia. Karena itulah Allah selalu membimbing nabi dan rasul-Nya ini agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Nabi dan rasul ini juga memiliki sifat-sifat yang istimewa yang mengiringi tugas mereka yang amat berat.

Para Rasul Allah merupakan teladan bagi sekalian umatnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang yang menjadi teladan memiliki sifat suci dari dosa, bahkan lebih dari itu, dia harus memiliki akhlak yang luhur. Untuk kepentingan tersebut, Allah akan menjaga dan memelihara para nabi dan rasul-Nya dari melakukan perbuatan-perbuatan salah dan dosa.

Sebagai manusia pilihan, para nabi dan rasul senantiasa terpelihara dari perbuatan maksiat. Mereka senantiasa memperlihatkan akhlak yang mulia dan mencerminkan kehidupan yang diliputi kesucian. Allah telah mengaruniakan kepada mereka pertolongan dan anugerah untuk dapat mencapai kesempurnaan kemanusiaannya. Dengan demikian sudah sepantasnya kalau perilaku mereka menjadi anutan dan teladan. Selain terpelihara dari melakukan maksiat, para rasul juga memiliki beberapa sifat utama, yaitu shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh.

Pertama, shiddiq artinya jujur, seorang rasul tentu saja harus jujur. Bagaimana mungkin ia dapat diteladani kalau ia adalah seorang pembohong. Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 41:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

Terjemahnya: "Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi."

Kedua, amanah artinya dapat dipercaya. Seorang rasul mendapat amanat atau kepercayaan dari Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Para rasul telah dengan baik mengemban amanat Allah tersebut. Mereka telah berusaha keras dan sabar menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Sifat amanah ini berhubungan erat dengan sifat tabligh, yaitu menyampaikan. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 161:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ

Terjemahnya: "Tidak mungkin bagi seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang."

Ketiga, tabligh artinya menyampaikan. Para rasul memiliki tugas pokok untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada umat manusia. Karena itu sifat ini menjadi satu atau melekat pada diri seorang rasul. Menyembunyikan pesan Allah dan tidak disampaikan kepada orang banyak berarti pengkhianatan atas amanat yang diembannya. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 67:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

Terjemahnya: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya."

Keempat, fathanah artinya cerdas. Seorang rasul senantiasa tanggap terhadap apa pun yang terjadi pada umatnya, dan dia akan memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan umatnya. Allah berfirman dalam QS. Al-An'am ayat 89:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ

Terjemahnya: "Mereka itulah (para rasul) orang-orang yang Kami beri kitab, hikmah dan nubuwwah. Oleh sebab itu jika mereka (orang-orang kafir) tidak mempercayainya, tentulah Kami akan memberikannya kepada golongan yang tidak mengingkarinya."

Perlu diketahui, kedatangan seorang rasul atau nabi pada umumnya beruntun. Artinya seorang rasul akan datang setelah rasul yang sebelumnya wafat. Namun demikian, tidak dapat dipastikan berapa lama tentang waktu atau masa dari satu rasul ke rasul yang lain. Lagi pula tidak dapat dipastikan bahwa kedatangan rasul tersebut di tempat yang sama atau di tempat lain.

Yang dapat dipastikan adalah kedatangan seorang rasul ke rasul yang lain, bagaikan sebuah bangunan, adalah untuk memperbaiki bangunan yang telah rusak. Rangkaian kedatangan para rasul di berbagai tempat dan umat berkaitan erat dengan kehidupan suatu umat.

Pada umumnya, para rasul akan hadir di lingkungan kehidupan suatu umat yang rusak. Karena itu, peran mereka adalah memberikan bimbingan dan petunjuk kepada masyarakat yang telah rusak tersebut. Di lain pihak, rangkaian tersebut dapat juga dilihat dalam pengertian bahwa risalah Ilahi tersebut dari waktu ke waktu terus disempurnakan seiring dengan perkembangan kehidupan umat manusia.

Namun demikian, bukan berarti bahwa pengetahuan Allah tidak sempurna. Maksudnya adalah bahwa pada masa rasul-rasul tertentu, seiring dengan perkembangan manusianya, syariat yang dapat diterapkan bisa berbeda-beda.

Dari serangkaian diutusnya para rasul tersebut, ternyata Allah menetapkan bahwa kerasulan Muhammad merupakan kerasulan yang terakhir. Nabi Muhammad merupakan khatam al-anbiya (penutup para nabi). Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 40:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍۢ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا

Terjemahnya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi."

Ada beberapa konsekuensi dari kedudukan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir. Pertama, dengan berakhirnya kerasulan pada kenabian Muhammad berarti bahwa ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad...

Lanjut ke Materi Berikutnya