Bina Mualaf Bumi Asri

Bagian Keenam

Ibadah

A. Tinjauan Umum Tentang Ibadah

1. Tujuan Pembelajaran

Pada pembahasan yang lalu, kita telah mengetahui bahwa ajaran Islam meliputi ibadah dan mu'malah. Perbedaan yang mendasar antara ibadah dan muamalah terletak pada bahasa atau ungkapan yang digunakan al-Qur'an dan al-Sunnah. Untuk yang pertama, al-Qur'an dan al-Sunnah menggunakan bahasa yang rinci (tafsili) dan tegas, sehingga ruang untuk terjadinya perbedaan penafsiran sangat kecil. Kalaupun ada perbedaan tidaklah prinsipil. Lain halnya dengan aspek muamalah, kreasi manusia dalam menafsirkannya lebih terbuka, sehingga sangat berpotensi melahirkan banyaknya perbedaan pendapat.

Pembaca sangat dianjurkan untuk membaca kembali terkait apa perbedaan antara ibadah dan muamalah dalam pemabahasan yang lalu. Jika sudah benar-benar paham, maka silahkan melanjutkan pada bagian ini, yaitu tentang apa saja yang menjadi kategori ibadah dalam Islam. Bahasan prihal ibadah dalam bagian ini, terlebih dahulu disajikan apa makna ibadah; jenis-jenis ibadah; dan hikmah serta tujuan ibadah.

2. Pembahasan

a. Makna Ibadah

Ibadah adalah bahasa Arab yang diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Pengertian ibadah secara kebahasaan bermakna melayani, patuh dan tunduk, mengabdi, dan menghinakan diri. Sedangkan secara istilah (terminologi), ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan yang zhahir maupun yang bathin.

Ibadah pada hakekatnya adalah sikap tunduk semata-mata mengagungkan Dzat yang disembah. Jadi, hakekat ibadah adalah penghambaan. Dengan kata lain, ibadah berarti usaha mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturan Allah dalam menjalankan kehidupan yang sesuai dengan perintah-perintah-Nya, mulai akil baligh sampai meninggal dunia. Indikasi ibadah adalah kesetiaan, kepatuhan dan penghormatan serta penghargaan kepada Allah SWT serta dilakukan tanpa adanya batasan waktu.

Ibadah merupakan bentuk integral dari syari'at, sehingga apapun ibadah yang dilakukan oleh manusia harus bersumber dari syari'at Allah Swt. Semua tindakan ibadah yang tidak didasari oleh syari'at Islam maka hukumnya bid'ah. Ibadah tidak hanya sebatas menjalankan rukun Islam saja, tetapi juga berlaku bagi semua aktivitas duniawi yang didasari dengan rasa ikhlas untuk mencapai ridho Allah Swt.

b. Kenapa Manusia Harus Beribadah?

Allah Swt. mewajibkan manusia beribadah, dengan tujuan agar manusia dapat terhindar dari sesuatu yang buruk dan dapat merugikannya di dunia serta di akhirat.

Bahkan, akal sehat kita pun pasti menerima, bahwa manusia sebagai ciptaan (makhluk) sudah tentu wajib menyembah dan patuh pada Sang Khalik (Pencipta). Hal ini tidak berarti Allah Swt. butuh pada penyembahan manusia, tapi manusialah yang butuh menyembah Tuhannya.

Pada dasarnya, tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak menyembah Tuhan, setidaknya menyembah apa yang mereka percayai sebagai Tuhan.

Ada sebagian orang yang menganggap patung dewa, imam, dan lain sebagainya sebagai perantara (jembatan), lalu mereka menyembah dan menyediakan berbagai jamuan dan sesembahan kepada yang mereka anggap sebagai Tuhan itu.

Sekalipun ada manusia yang mengaku ateis (tidak percaya adanya Tuhan), sejatinya mereka juga bertuhan. Umumnya orang ateis ini menyembah ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka menganggap bahwa dengan ilmu pengetahuan, kehidupan ini sudah berjalan dengan baik dan layak. Mereka bergantung pada ilmu pengetahuan, menyembah dan tunduk kepadanya, serta menganggap tidak ada yang lebih kuasa dibanding ilmu pengetahuan itu sendiri. Ringkasnya, mereka mempersepsikan Tuhan dengan cara yang berbeda.

Oleh karena itu, hajat manusia kepada Tuhan tidak mungkin dapat dibantah. Dalam arti, fitrah manusia tidak mungkin meninggalkan konsep bertuhan. Di sinilah letak Maha Kasih-Nya Tuhan: Ia mengajarkan manusia bagaimana bertuhan dengan benar, yakni bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan itu sendiri. Sebab, dengan pengalaman manusia—entah itu karena lingkungan maupun faktor lainnya—banyak manusia yang menyimpang dari ajaran Tuhan yang benar. Maka, Allah pun mengutus para nabi untuk mengajarkan manusia menyembah Tuhan yang benar, termasuk cara menyembah-Nya.

Dapat disimpulkan, tujuan ibadah itu memang Allah, tetapi yang membutuhkan ibadah (dengan benar) adalah manusia itu sendiri. Allah tidak butuh kepada ibadah manusia.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. al-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Terjemahnya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Penegasan Allah dalam ayat ini bukan berarti Dia butuh pada ibadah manusia. Melainkan, ayat ini merupakan bentuk Kasih Sayang Allah yang menginginkan manusia agar beribadah dengan benar, menyembah dengan benar—yakni tidak menyembah dan beribadah kepada apa pun selain kepada Allah. Karena tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah, dan tidak ada yang paling mengerti soal Tuhan selain Tuhan itu sendiri.

Alasan inilah juga yang menjadi dasar mengapa di awal penulis telah menjelaskan bahwa dalam ruang ibadah, al-Qur'an dan al-Sunnah dijelaskan secara tegas. Kreasi manusia dalam menafsirkannya dibatasi secara ketat, sebab Allah ingin menjaga manusia dari tipu muslihat dan kesalahpahaman soal ibadah yang benar.

Lanjut ke Materi Berikutnya